Pendidikan Islam Profetik

Pendidikan Islam Profetik:Integrasi Islam dan Ilmu Menuju Pendidikan yang Humanis, Liberatif dan Transendentif

Pendahuluan

Masalah pendidikan sudah lama menjadi pokok diskusi masyarakat Indonesia, khususnya para pengamat dan pakarnya. Diskusi-diskusi tersebut telah menghasilkan berbagai definisi tentang hakekat, peranan serta pentingnya pendidikan. Sejauh perkembangannya selama ini, baik secara konseptual maupun teknisnya di lapangan, pendidikan telah mengalami beberapa fase perubahan. Hal itu disebabkan karena pendidikan selalu mencoba melahirkan konsep-konsep baru dalam mengatasi berbagai persoalan yang muncul di dalamnya. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan di Indonesia justru terjebak ke dalam sebuah paradigma dan ideologi yang sebagian besar diadopsi dari Barat. Implikasinya adalah pendidikan akan semakin kehilangan ruhnya, atau semakin diperbaratkan. Liberalisasi di bidang pendidikan, yang berakibat kepada pendidikan yang dikomersilkan, semakin menjadikan masyarakat sulit untuk mengakses pendidikan. Dengan demikian maka peradaban menjadi terancam, karena manusia sudah tidak lagi diposisikan sebagai makhluk paling utama, manusia disamakan dengan mesin dan hewan.

Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah sintesis yang paling memungkinkan dalam menyelesaikan beberapa persoalan tersebut. Dibutuhkan konsep pendidikan yang bukan hanya bersifat akomodatif, namun juga harus berangkat dari sebuah paradigma pendidikan yang berkomitmen terhadap kebenaran. Untuk itulah upaya pencarian alternatif dalam bentuk konsep yang selanjutnya akan dikembangkan secara baik dan benar menjadi sebuah keniscayaan untuk dilakukan. Konsep pendidikan yang didesain berdasarkan kebutuhan mendasar manusia. Namun dengan tetap tidak terlepas dari nilai-nilai dasar sebagai pondasi utamanya, Islam.

Meskipun mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam, namun hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari  proses panjang Islamisasi yang telah dilaluinya. Selama proses panjang Islamisasi tersebut,[1] pendidikan Islam menjadi media paling utama dalam pembinaan moral bangsa Indonesia. Lahirnya Tamansiswa, Muhammadiyah, dan pesantren-pesantren di Indonesia, dapat dikatakan sebagai wujud nyata dari pendidikan Islam yang dimaksud. Dalam perkembangannya sekarang, pendidikan Islam yang dulunya memiliki peranan sangat penting dalam pembentukan moral dan pengetahuan bangsa, mengalami kemunduran dan membutuhkan revisi. Pendidikan Islam sekarang belum menemukan formula terpadu dalam menjawab tantangan zaman, sehingga kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang benar-benar humanis, liberatif dan transendentif,[2] juga belum dapat terpenuhi. Melalui pendekatan secara sosiologis-teologis-filosofis dalam melihat berbagai persoalan di atas, sebagai sebuah sintesis, Pendidikan Islam Profetik menjadi cukup relevan untuk diperkenalkan sebagai sebuah alternatif.

Manusia, Pengetahuan dan Pendidikan

Lahirnya kesadaran manusia terhadap pentingnya pendidikan sebagai sebuah proses untuk memperoleh pengetahuan, pada dasarnya berangkat dari fitrahnya, yaitu kecenderungannya untuk mengetahui segala sesuatu, pengetahuan. Pengetahuan tidak bisa diperoleh tanpa melalui sebuah proses, proses itulah pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan mendasar bagi manusia. Melalui pendidikan, manusia mampu mengenal dirinya, manusia dapat memiliki pengetahuan yang sangat beragam. Dengan pengetahuan yang telah diperolehnya, manusia dapat membedakan antara baik dan buruk, dengan pengetahuan juga manusia dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.

Untuk meletakkan pendidikan sebagai sesuatu yang sangat penting bagi manusia, karena merupakan kebutuhan, maka manusia harus dipahami sebagai makhluk yang utama dan memiliki arti penting bagi kehidupan. Keberadaan manusia yang selama ini hampir disamakan dengan materi semata (mesin, hewan dan benda lainnya) harus dirubah, menjadi manusia dalam makna yang sesuai dengan maksud diciptakannya. Jika manusia telah diposisikan sebagai makhluk utama, maka pendidikan baru dapat diletakkan sebagai kebutuhan bagi keutamaan. Konsep yang dirumuskan juga harus sesuai dengan kecenderungan dan hakikat manusia itu sendiri.

  1. Pandangan tentang Manusia

Kebutuhan manusia terhadap pendidikan sebagai media dalam memperoleh pengetahuan, sebenarnya sangat berkaitan dengan penjelasan terhadap konsep tentang manusia itu sendiri. Secara filosofis, konsep tentang manusia dibagi menjadi tiga; manusia sebagai tujuan akhir penciptaan, manusia sebagai mikrokosmos, dan manusia sebagai cermin Tuhan. Hal ini tentu sangat berbeda dengan pandangan para saintis tenang manusia, yang menganggap manusia hanya sebagai makhluk fisik-kimia.[3]

Konsep tentang manusia sebagai tujuan penciptaan didasarkan pada sebuah hadits qudsi yang mengatakan, “Kalau bukan karenamu, tidak akan Kuciptakan alam semesta ini”. Meskipun di dalam riwayatnya, yang menjadi lawan bicara adalah Nabi Muhammad saw., menurut Ibnu ‘Arabi, hadits tersebut diberlakukan juga kepada manusia secara umum, sebab Nabi Muhammad merupakan simbol par exellence dari manusia yang telah mencapai tingkat kesempurnaan.[4] Untuk memperjelas sekaligus membuktikan bahwa manusia merupakan tujuan dari penciptaan, kita dapat melihat dan merenungkan bahwa apa saja yang kita temukan di dunia ini adalah untuk manusia. Al-Qur’an juga mengatakan bahwa, “Dialah (Tuhan) yang menjadikan segala apa yang ada di bumi untukmu”.[5]

Selain sebagai tujuan penciptaan manusia juga sebagai mikrokosmos, maksudnya adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat berbagai unsur alam yang menbentuknya. Manusia sebagai mikrokosmos berarti manusia sebagai intisari alam. Sebagai intisari alam maka di dalam diri manusia terdapat berbagai kecenderungan seperti halnya kecenderungan alam. Untuk dapat membedakan manusia dengan alam itu sendiri, maka diberikanlah akal kepada manusia, melalui akalnya manusia dapat mengetahui selain perbedaannya dengan alam, juga tujuan dari keberadaannya. Dengan akalnya  manusian tidak hanya mampu  meraih dan menyusun ilmu pengetahuan (kognitif), namun juga mampu mengendalikan nafsunya. Kemampuan dalam mengendalikan nafsu itulah yang menjadikan manusia memiliki moral yang utama.

Selain oleh para sufi, para filosof juga menyebut manusia sebagai cerminan Tuhan.[6] Konsep ini berangkat dari Pandangan mereka bahwa manusia tidak lain adalah bagian integral dari alam (cosmos), sedangkan alam merupakan manifestasi sifat-sifat Tuhan. Karena setiap bagian tertentu alam adalah cerminan dari sifat-sifat tertentu Tuhan, ketika manusia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari alam maka manusia juga merupakan cerminan Tuhan.

  1. Kecenderungan Manusia Terhadap Pengetahuan

Untuk dapat menjalani kehidupannya manusia menbutuhkan sebuah keyakinan. Dengan keyakinan tersebut manusia akan mampu melahirkan tata nilai, dan dengan tata nilai peradaban akan dihasilkan oleh manusia. Peradaban yang baik dan benar harus diciptakan dari tata nilai yang benar sebagai aturan dan norma yang akan dijalankan oleh manusia. Maka tata nilai tersebut juga harus bersumber dari keyakinan yang benar, di sinilah kecenderungan manusia lahir, kecenderungan kepada kebenaran.[7]

Keyakinan manusia berangkat ada yang dari fitrahnya, namun ada juga yang berangkat dari konsepsi yang membutuhkan pembenaran. Pembenaran terhadap keyakinan tersebut dapat dilakukan kalau manusia memiliki pengetahuan. Ketika manusia membutuhkan keyakinan yang benar sebagai penopang peradaban dan budayanya, maka di saat yang sama manusia akan membutuhkan pengetahuan mengenai hal itu. Jika demikian kenyatannya, maka manusia selamanya akan membutuhkan pegetahuan, dari mulai kelahirannya di dunia sampai menjelang kematiannya. Itulah bukti bahwa untuk mewujudkan kecenderungannya kepada kebenaran, maka manusia pasti juga akan cenderung kepada pengetahuan.

  1. Pendidikan Sebagai Kebutuhan Manusia

Banyak para ahli yang mencoba untuk mendefinisikan makna dari pendidikan, meskipun lebih banyak dari mereka yang mengartikan pendidikan dalam maknanya yang sangat sempit. Para ahli pendidikan liberal misalnya,  mengatakan bahwa pendidikan hanya sebatas proses  transformasi pengetahuan. Sedangkan bagi para ahli yang radikal, pendidikan diartikan sebagai proses transformasi pengetahuan dengan menggunakan ideologi pendidikan yang tidak memihak. Jika pendidikan diartikan secara sempit, misalnya pendidikan hanya dimaknai sebagai proses transformasi pengetahuan semata, bahkan tidak berfihak, maka pendidikan tidak memiliki arah dan pijakan yang jelas.

Menurut Nurcholis Madjid, istilah pendidikan, yang di dalam Al-Qur’an disebut “tarbiyah”, mengandung arti “penumbuhan” atau “peningkatan”. Penumbuhan atau peningkatan tersebut meliputi dua segi, segi jasmani dan segi yang bukan bersifat jasmani. Makna yang pertama lebih cenderung kepada usaha untuk memberikan perhatian dengan rasa penuh cinta kasih yang semurni-murninya dengan mencurahkan diri dan perhatian kepada pertumbuhan seorang anak manusia.[8] Biasanya hal ini dilakukan oleh seorang ibu kepada anaknya.

Selanjutnya, makna yang kedua adalah penumbuhan dan peningkatan potensi positif seorang anak agar menjadi manusia dengan tingkat kualitas yang setinggi-tingginya.[9] Dalam hal ini pendidikan diarahkan untuk menjadikan si anak menjadi “baik”. Meskipun demikian, hal tersebut tidak dapat dipaksakan, sebab potensi kebaikan itu sudah terdapat pada diri si anak, yaitu yang menjadi fitrahnya. Secara umum, adanya sistem, metode serta para pendidik (orang tua dan guru) yang dikenal dalam dunia pendidikan, tidaklah berkuasa penuh dalam pelaksanaan pendidikan. Namun perangkat-perangkat pendidikan tersebut berkewajiban mengembangkan apa yang secara primordial sudah ada pada diri manusia. Sesuatu yang primordial tersebut adalah kecenderungan kepada kebenaran sebagai fitrah manusia (nature, kesucian).

Senada dengan pandangan Nurcholis Madjid tentang pendidikan, Paulo Freire, salah seorang pemikir dari Brazil melihat pendidikan lebih kepada dimensi sosialnya, yaitu sebagai proses perubahan, dalam rangka menciptakan struktur-struktur sosial yang adil dan manusiawi. Maka dari itu, lebih lanjut Freire mengemukakan bahwa pendidikan harus memiliki kepentingan politik. Sebab jika pendidikan tidak berpolitik, maka manusia akan dipolitikkan oleh pendidikan.

Persoalan yang seringkali muncul adalah ketika pendidikan termanifestasikan ke dalam bentuk konsep-konsep, lembaga-lembaga dan praktek-praktek, ternyata sudah tidak lagi mencerminkan proses pemenuhan kebutuhan manusia terhadap pengetahuan. Pendidikan diarahkan hanya untuk mencetak manusia-manusia yang sudah dipeta-petakan menurut keahliannya masing-masing. Pendidikan telah menciptakan manusia-manusia mesin, manusia-manusia pragmatis, yang sangat kering akan dimensi spiritual. Pendidikan semakin menjauhkan manusia dari kemanusiaannya (dehumanisasi), dari kemerdekaannya (deliberasi), bahkan dari Tuhan-nya (detransendensi).

Islam dan Masalah-masalah Pendidikan

Pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan Islam bukanlah pekerjaan yang sederhana, karena memerlukan adanya suatu perencanaan secara terpadu dan integral. Munculnya berbagai persoalan seputar pendidikan dewasa ini salah satunya disebabkan oeh adanya pendikotomian antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama. Pemisahan ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama tersebut lahir dari pemahaman yang tidak utuh terhadap Islam. Mengutip dari Nurcholis Madjid, yang berangkat dari konsep Tauhid dalam Islam “sebenarnya hidup manusia menjadi sangat sederhana, beriman, berilmu dan beramal”,[10] pernyataan tersebut jika ditafsirkan lagi akan memberikan pemahaman baru bahwa untuk dapat hidup sesuai dengan ajaran Islam maka manusia harus beriman, berilmu dan beramal. Untuk dapat beriman, berilmu selanjutnya beramal maka manusia membutuhkan pendidikan. Sebagaimana para pemikir pendidikan Islam dulu, seperti Ibnu Maskawaih misalnya, mereka berpendapat bahwa harus ada keterpaduan antara Islam dan ilmu. Keterpaduan itu selanjutnya termanifestasikan ke dalam berbagai bentuk konsep, sistem serta mekanisme pendidikan.

Pendidikan sekarang adalah pendidikan yang kaya dengan masalah. Masyarakat disibukkan dengan bagaimana menyelesaikan masalah di dalam pendidikan, bukan berfikir bagaimana  melahirkan konsep yang bagus untuk pendidikan. Masalah-masalah tersebut lebih bersifat parsial, bukan substansial. Mahalnya biaya pendidikan seringkali menjadi dilema bagi para pengambil kebijakan. Di satu sisi, kita menyadari bahwa hanya dengan pendidikan seseorang dapat memobilisasi kapasitasnya sebagai individu, namun di sisi lain, karena mahalnya biaya pendidikan, kelompok menengah ke bawah mengalami kesulitan dalam mengakses kesempatan tersebut.

Kegagalan-kegagalan lain dalam dunia pendidikan, yang disebabkan oleh nilai-nilai Islam yang kurang dijadikan sebagai pondasi dasarnya, juga merupakan persoalan bagi dunia pendidikan. Seperti telah dijelaskan di awal, pendidikan hanya menghasilkan manusia-manusia mesin, manusia yang terkotak-kotakkan, manusia berkepribadian ganda, dan manusia yang berorientasikan hanya pada hal-hal yang bersifat duniawi. Tradisi ”mengulurkan tangan” ke luar untuk meminta bantuan dana atau fasilitas tertentu, serta dukungan secara politis dngan alasan yang beraneka ragam, membuktikan dengan sendirinya bahwa pendidikan kita telah mengalami krisis akut.[11] Arus bawah mistik yang memberikan corak kehidupan agama di Indonesia sehingga lebih mementingkan ”amaliah” daripada ”pemikiran”, serta para ulama yang lebih menekankan bidang fiqih melalui pendekatan yang sangat normatif,[12] tanpa disadari telah menjadikan pesantren sebagai cikal bakal pendidikan Islam di Indonesia, juga bermasalah.

Begitu komplek dan rumitnya persoalan yang dihadapi oleh pendidikan di Indonesia, menjadikan pendidikan Islam yang dulunya mengambil nilai-nilai Islam sebagai kandungan pokoknya, harus tampil kembali dengan paradigma yang lebih komprehensif. Sebagai struktur yang di dalamnya mengandung banyak sistem nilai universal,[13] Islam harus melahirkan kembali konsep pendidikan yang tidak hanya berlabelkan Islam, namun juga harus objektif.

  1. Modernisme dan Liberalisasi Pendidikan

Modernisasi dapat dikatakan merupakan anak kandung dari ilmu pengetahuan. Melalui modernitas yang telah dihasilkannya, manusia menjadi dipermudah dalam kehidupannya. Namun demikian tetap saja modernisasi memiliki dampak yang negatif, ketika modern dimaknai hanya sebatas meninggalkan nilai-nilai lama (tradisional) menuju nilai-nilai yang baru (modern). Modern memang merupakan sebuah keharusan dalam Islam, yaitu modern sebagai rasionalisasi, perombakan terhadap pola berfikir dan tata kerja baru yang tidak rasional, diganti dengan pola pikir dan tata kerja baru yang rasional.[14] Dalam hal ini modern juga dimaknai sebagai gerak perkembangan ilmu pengetahuan ke arah peradaban yang lebih baik. Lebih dalam lagi Nurcholis Madjid menganggap Modernitas sebagai kebenaran, modernissi sebagai usaha atau proses mencapai kebenaran itu sendiri, “Yang modern secara mutlak adalah yang benar secara mutlak, yaitu Tuhan Yang Maha Esa”.[15]

Kekeliruan dalam memaknai modern di kalangan masyarakat Indonesia selama ini, telah mengantarkan bangsa Indonesia ke arah liberalisasi. Modern diterjemahkan ke dalam sebuah keadaan yang bebas, kebebasan yang disamakan dengan kebebasan yang ada di dunia barat. Pendidikan yang seharusnya berdiri di atas pondasi nilainya sendiri, karena pengaruh negatif dari arus modernisasi tersebut, ikut terliberalkan. Akhirnya liberalisasi di bidang pendidikan pun tidak dapat dihindarkan. Lahirnya kapitalisasi pendidikan, atau pendidikan yang “diperdagangkan”, adalah dampak terparah dari liberalisasi pendidikan tersebut.

Liberalisasi pendidikan juga berakibat lahirnya pendidikan sekular yang juga dimaknai secara sempit, yaitu dengan begitu saja memisahkan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Pemisahan itu selanjutnya akan membuka secara lebar kurikulum-kurikulum pendidikan barat. Tidak heran makanya bahwa pendidikan di Indonesia, baik dilihat secara umum maupun pendidkan Islamnya, tanpa sadar sudah “terbaratkan”. Hal ini tidak bisa kita pungkiri, sebab telah banyak juga kaum terpelajar di  Indonesia, terutama para cendekiawannya, adalah para alumni dari model-model pendidikan yang sudah diperbarat.[16]

  1. Pendidikan Islam di Indonesia: Idealitas dan Realitas

Pendidikan Islam hingga kini dapat dikatakan masih berada dalam posisinya yang problematik. Di satu sisi pendidikan Islam belum sepenuhnya dapat keluar dari idealissi kejayaannya pada masa lalu, di sisi lain ia dipaksa untuk menerima tuntutan perkembangan zaman, terutama pengaruh yang datang dari Barat.[17] Pendidikan Islam, khususnya di Indonesia, adalah pendidikan yang  tidak hanya diorientasikan kepada pembentukan moral dan akhlak secara individu, namun juga diorientasikan kepada pembentukan akhlak serta moral masyarakat dan Negara. Salah satu latar belakang didirikannya pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah sebagai wujud nyata dari pendidikan Islam yang terlembagakan, adalah untuk menanamkan dan melestarikan nilai-nilai agama.

Cita-cita para pemikir pendidikan Islam di Indonesia sangat sesuai dengan pandangan mengenai pentingnya pendidikan menurut Islam. Keterpaduan antara tiga landasan di dalam epistemologi Islam, bayani, irfani dan burhani, telah mampu menjadikan pendidikan Islam sebagai model pendidikan yang ideal. Hadirnya pengaruh dari Barat telah menjadikan pendidikan Islam yang ideal tersebut, semakin jauh dari kenyataan. Sesuatu yang menjadi harapan dari para pemikir pendidikan Islam pada waktu itu, juga harapan dari seluruh masyarakat Indonesia, akan hadirnya sebuah model pendidikan yang akomodatif, dalam kenyatannya belum terpenuhi.

Kecenderungan beberapa institusi pendidikan Islam, misalnya pesantren-pesantren yang terkesan ketakutan untuk menerima pengaruh dari pemikiran-pemikiran baru,[18] tanpa disadari justru hanya akan menghambat Islam dalam menyelesaikan berbagai masalah seputar pendidikan. Munculnya apologi mengenai perlunya menjaga tradisi lama dari pengaruh sekuler tidak seharusnya menghantui institusi-institusi tersebut. Karena hal ini menjadikan pesantren akan semakin eksklusif dan sulit untuk menerima tuntutan perkembangan. Demikian halnya pendidikan Islam modern yang menganggap bahwa pendidikan Islam klasik adalah kolot, konservatif dan ketinggalan jaman, paradigma tersebut harus dirubah.

Pandangan seperti yang digunakan oleh institusi pendidikan di atas, bukan merupakan pandangan pendidikan yang mengarahkan kepada pendidikan yang lebih bersifat inklusif, komplementer dan holistik. Jika pandangan tersebut tidak didekonstruksi selanjutnya dibangun kembali, selamanya pendidikan Islam di Indonesia tidak akan mampu merealisasikan konsep yang diidealkannya. Idealitas pendidikan Islam di Indonesia bukan semakin mendekat dengan realitasnya,  justru sebaliknya.

D. Pendidikan Islam Profetik

Salah satu gejala dari kemunduran pendidikan Islam di Indonesia adalah kurang pekanya terhadap tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan. Seperti sudah dikemukakan di awal bahwa pendidkan di Indonesia mengalami dilema, di satu sisi engan untuk meninggalkan tradisi-tradisi pendidikan lama, karena tradisi baru dianggap hanya merusak nilai-nilai, di sisi lain pendidikan modern menilai bahwa pendidikan tradisional bersifat ekslusif dan kolot. Dalam situasi pendidikan yang semakin tidak menentu tersebut, pendidikan Islam profetik diharapkan tampil sebagai jawaban terhadap berbagai persoalan yang ada. Pendidikan Islam profetik hadir melalui pembongkaran terhadap sekat-sekat pengetahuan yang selama ini kurang produkif, menghapuskan ketakutan-ketakutan terhadap sekularisasi, dan menghilangkan keraguan akan nilai-nilai tradisional yang selama ini dianggap telah melahirkan stagnasi.

  1. Rekonstruksi Pemahaman Terhadap Islam

Pendidikan Islam profetik, memuat tiga konsep: pendidikan, Islam, dan profetik. Untuk memadukan tiga konsep tersebut sehingga menjadi sebuah konsep integral yang relevan bagi kebutuhan pendidikan kita, maka perlu diuraikan satu persatu. Hal ini dilakukan supaya tidak terdapat pemahaman yang setengah-setengah mengenai konsep pendidikan Islam Profetik. Mengenai hakikat dan makna penting pendidikan sebagai kebutuhan manusia telah disebutkan di awal, maka kita tinggal melakukan eksplorasi dan pemahaman kembali terhadap Islam dan profetik.

Islam, secara sederhana dapat dipahami sebagai dua hal, sistem nilai dan lembaga. Islam sebagai sistem nilai tentu berbeda jauh dengan Islam yang dipahami sebagai lembaga. Kekeliruan yang telah dilakukan oleh sebagian masyarakat kita dalam memahami Islam selama ini adalah Islam sebagai lembaga yang seolah-olah dimaknai sebagai Islam itu sendiri. Jika Islam hanya dimaknai seperti itu, maka Islam sama halnya dengan Muhammadiyah, NU, Persis, Ahmadiyah, LDII, dan beberapa lembaga yang selama ini masyarakat lebih fanatik sebagai salah satu bagian di dalamnya. Islam menjadi sangat sempit dan tidak lagi universal, Islam seperti itu juga bukan Islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta.

Nurcholis Madjid, dalam salah satu maha karyanya bersama dengan beberapa temannya di HMI,[19] menulis demikian:

Manusia memerlukan suatu bentuk kepercayaan. Kepercayaan itu akan melahirkan tata nilai guna menopang hidup dan budayanya. Sikap tanpa percaya atau ragu yang sempurna tidak mungkin dapat terjadi. Tetapi selain kepercayaan itu dianut karena kebutuhan dalam waktu yang sama juga harus merupakan kebenaran. Demikian pula cara berkepercayaan harus pula benar. Menganut kepercayaan yang salah bukan saja tidak dikehendaki akan tetapi bahkan berbahaya.

Disebabkan kepercayaan itu diperlukan, maka dalam kenyataan kita temui bentuk-bentuk kepercayaan yang beraneka ragam di kalangan masyarakat. Karena bentuk- bentuk kepercayaan itu berbeda satu dengan yang lain, maka sudah tentu ada dua kemungkinan: kesemuanya itu salah atau salah satu saja diantaranya yang benar. Disamping itu masing-masing bentuk kepercayaan mungkin mengandung unsur-unsur kebenaran dan kepalsuan yang campur baur.

Sekalipun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa kepercayaan itu melahirkan nilai-nilai. Nilai-nilai itu kemudian melembaga dalam tradis-tradisi yang diwariskan turun temurun dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya. Karena kecenderungan tradisi untuk tetap mempertahankan diri terhadap kemungkinan perubahan nilai-nilai, maka dalam kenyataan ikatan-ikatan tradisi sering menjadi penghambat perkembangan peradaban dan kemajuan manusia.[20]

Pemaparan Nurcholis Madjid di atas dapat diartikan sebagai interpretasi terhadap Islam. Namun Islam yang harus dimaknai sebagai komitmen terhadap kebenaran, sebab Islam mengarahkan manusia kepada kebenaran yang mutlak sifatnya. Kebenaran yang bukan bersifat relatif, yang terdapat di dalam diri manusia. Kebenaran yang mutlak hanya diketahui oleh yang paling mengetahui kebenaran itu sendiri, Dia sebagai pencipta, sebagai sumber, sekaligus kebenaran itu sendiri, yaitu Tuhan Yang Maha Sempurna. Dengan demikian bisa saja Islam kita selama ini bukanlah Islam yang dimaksud oleh Islam itu sendiri, maka dibutuhkan pembongkaran dan penataan kembali pemahaman kita terhadap Islam.

Islam yang dimaknai secara sempit dan keliru tentu hanya akan mengarahkan manusia bukan kepada kebenaran yang hakiki, namun kepada kebenaran semu. Pemahaman yang setengah-setengah tersebut akan melahirkan tata nilai dan peradaban seperti yang dikekukakan oleh Nurcholis Madjid di atas. Islam selain dapat diartikan sebagai jalan kehidupan (the way of life), yaitu jalan menuju keselamatan, Islam juga adalah keselamatan itu sendiri. Karena Islam sendiri adalah komitmen terhadap kebenaran, barang siapa merasa Islam maka dia harus berkomitmen kepada kebenaran. Dengan demikian Islam adalah Islam yang integral dan bersifat menyeluruh, Islam yang menurut Kuntowijoyo adalah struktur yang bersifat keseluruhan (wholeness), mengalami perubahan bentuk (transformation), dan mengatur dirinya sendiri (selfregulation).[21]

Pemahaman yang benar terhadap Islam selanjutnya akan memungkinkan manusia, khususnya umat islam memiliki pandangan atau paradigma yang benar, yaitu paradigm Islam. Paradigma Islam itulah yang nantinya juga akan digunakan oleh pendidikan Islam di Indonesia sebagai cara pandang terhadap pendidikan. Sehingga mampu menghasilkan konsep pendidikan yang benar-benar sesuai dengan cita-cita Islam itu sendiri, humanisasi, liberasi dan transendensi.

  1. Integrasi Islam dan Ilmu

Setelah dilakukan pembongkaran terhadap pemahaman keislaman kita, selanjutnya dilakukan penataan kembali. Hasilnya adalah pemahaman yang benar terhadap Islam, kemudian menghasilkan paradigma Islam, sebuah paradigma yang integralistik. Dalam konteks dunia pendidikan, terutama pendidikan Islam, hal ini menjadi sangat penting. Dewasa ini, lahirnya islamisasi pengetahuan sebagai proses pengislaman terhadap ilmu-ilmu sekuler, masih membutuhkan kajian yang lebih mendalam. Sehingga adanya islamisasi pengetahuan, atau islamisasi ilmu, justru tidak membuahkan hasil yang sebaliknya, yaitu pengerdilan Islam.

Pendidikan Islam profetik, dalam penerapannya tentu membutuhkan metodologi. Metodologi yang dimaksud adalah integralisasi dan objektifikasi. Integralisasi dan objektifikasi bukan berarti melakukan islamisasi, sebab islamisasi pada dasarnya hanya menjadikan Islam semakin kerdil. Mengapa demikian? Islamisasi berarti ekspansi Islam kepada wilayah-wilayah yang lain, hal ini justru bertentangan dengan sifat Islam itu sendiri, Islam itu menyeluruh, melengkapi, serta sangat luas dan kaya. Jika Islam melakukan ekspansi, yang dalam prosesnya selama ini dapat dilihat melalui islamisasi sains, islamisasi Negara, islamisasi pendidikan, maupun proses pengislaman lainnya, secara tidak langsung sudah menggambarkan bahwa sebelumnya Islam tidak memiliki sifat menyeluruh dan integral.

Untuk bersifat menyeluruh maka Islam harus melakukan ekspansi, adalah pemahaman yang keliru. Pada hakikatnya wilayah-wilayah yang akan diekspansi tersebut sudah islami. Sebagai contoh adalah adanya pemerintahan, demokrasi di dalam Islam meniscayakan kesamaan hak, kemanusiaan, musyawarah, dan kebebasan. Dengan demikian tidak perlu lagi adanya Negara Islam dalam bentuk khilafah, sebab adanya pemerintahan sudah mencerminkan bentuk yang islami. Persoalan yang sering muncul adalah persoalan yang disebabkan oleh praktek-praktek yang tidak benar di dalam pemerintahan, tidak islami.

Ilmu pengetahuan, baik yang bersifat tradisional maupun modern, tidak harus dipertentangkan, tetapi disatukan. Sebab pada awalnya keduanya berangkat dari nilai-nilai yang sama dan dari sumber yang sama. Integrasi terhadap Islam dan ilmu akan semakin memperkuat keduanya. Islam adalah ilmu, dan ilmu merupakan keharusan di dalam Islam. Dengan demikian islamisasi tidak dibutuhkan, yang lebih dibutuhkan adalah integralisasi dan objektifikasi. Pendidikan Islam profetik mengarah kepada paradigma integralistik tersebut, sehingga objektifikasinya ke dalam bentuk sistem dan mekanisme pendidikan Islam, yang disampaikan melalui kurikulumnya benar-benar sesuai dengan kebutuhan manusia.

Melalui pengintegrasian Islam dan ilmu juga diharapkan adanya penyatuan antara wahyu Tuhan dan pikiran manusia, dengan tetap tidak mengucilkan salah satu diantaranya. Selain itu, integralisasi juga diharapkan mampu menyelesaikan “konflik” yang selama ini berkembang antara ilmu-ilmu tradisional dan ilmu-ilmu sekuler.

Perbandingan Model dan Paradigma Pendidikan di Indonesia

MODEL PENDIDIKAN

PARADIGMA

MUATAN DAN ORIENTASI

REFERENSI

SIKAP

Tradisional Konservatif/”Islam” (Islamnya NU/Muhammadiyah, dll) Agama/Akhirat Al-Qur’an/Hadits/Kitab-kitab Klasik (Fiqih, Tauhid, dll) Eksklusif
Modern Sekular/”Barat” Umum/Dunia Ilmu-ilmu modern (Ilmu yang bersifat harus rasional dan positifistik) Liberal
Profetik Integralistik Agama dan Umum/Dunia dan Akhirat wahyu Tuhan (kauniyah, kauliyah) dan akal manusia Inklusif

Terdapat beberapa model dan paradigma pendidikan di Indonesia, diantaranya adalah model pendidikan tradisional dengan paradigma “Islam”nya dan pendidikan modern dengan paradigma sekulernya. Tentu saja masing-masing model pendidikan tersebut, dengan paradigmanya masing-masing, memiliki muatan kurikulum dan orientasi yang juga berbeda. Referensi yang digunakan serta sikap yang dihasilkannya pun berbeda. Model pendidikan tradisional cenderung meletakkan agama dan akhirat sebagai kurikulum dan orientasinya. Pendidikan modern lebih kepada ilmu-ilmu umum dan keduniawian sebagai muatan kurikulum dan orientasinya. Eksklusif lebih menjadi sikap pilihan model pendidikan tradisional, jika dibandingkan liberal yang menjadi sikap pendidikan modern. Melalui pendidikan Islam profetik, masing-masing perbedaan yang terkesan berseberangan tersebut coba untuk diintegrasikan sehingga menghasilkan model pendidikan yang berparadigma integralistik serta lebih mengacu kepada wahyu Tuhan dan akal manusia sebagai referensinya. Dengan demikian orientasinya tentu saja mengarah tidak hanya yang bersifat duniawi, namun juga ukhrawi. Kurikulum yang dibangun adalah kurikulum ilmu-ilmu agama dan umum, sehingga melahirkan sikap inklusif.

  1. Internalisasi dan objektifikasi

Dalam upaya menciptakan masyarakat utama, pendidikan menjadi salah satu pilar utama di dalamnya. Selain pendidikan yang merupakan integrasi antara Islam dan ilmu, sehingga melahirkan pendidikan yang bermutu, maka ia juga harus diinternalisasikan sekaligus diobjektifikasikan. Kaitan antara objektifikasi dan internalisasi adalah bahwa objektifikasi harus berangkat dari internalisasi,[23] yang diinternalisasikan adalah nilai, yaitu nilai-nilai Islam.

Pendidikan Islam profetik mensyaratkan adanya objektifikasi, bukan sekularisasi.[24] Objektifikasi menghendaki terhindarnya masyarakat dari dominasi. Dalam kaitannya dengan pendidikan Islam profetik, objektifikasi menghendaki juga ketiadaan dominasi Islam terhadap masyarakat. Melalui objektifikasi ini, masyarakat dari kelas manapun, agama apapun, kelompok manapun, akan dapat menerima konsep, sistem dan mekanisme serta kurikulum pendidikan Islam profetik yang dijalankan sebagai hal yang “wajar”. Hasil-hasil yang dilahirkan selama proses di dalam pendidikan, yaitu penggalian, pengakumulasian, koleksi, serta transformasi  akan pengetahuan, dianggap sebagai aktualisasi terhadap nilai-nilai agama (ilmu agama) sekaligus nilai-nilai dunia (ilmu dunia) secara wajar. Tidak pernah muncul di dalamnya ketakutan-ketakutan terhadap apa yang selama ini dianggap sebagai “islamisasi” atau “kristenisasi”.

Objektifikasi adalah perbuatan dalam merasionalkan nilai-nilai yang diwujudkan ke dalam perbuatan yang juga bersifat rasional, sehingga orang lain pun dapat menikmatinya tanpa harus menyetujui nilai-nilai asalnya.[25] Dalam konteks pendidikan dapat dicontohkan melalui misalnya, di dalam Islam, orang yang malas mencari ilmu adalah orang yang tidak disukai oleh Tuhan, orang yang membiarkan orang lain tetap berada di bawah penindasan orang lain adalah musuh Tuhan, maka hal itu dapat diobjektifikasikan melalui model dan kurikulum pendidikan yang mengarahkan orang kepada perolehan ilmu pengetahuan. Ilmu yang dimiliki itu dapat menjadi alat baginya untuk melawan penindasan yang selama ini terjadi kepadanya. Pendidikan yang membebaskan tersebut adalah objektifikasi dari ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imran, ayat 110.[26]

Letak perbedaan antara pendidikan Islam profetik dan pendidikan Islam selama ini adalah pada objektifikasinya. Pendidikan Islam yang ada selama ini lebih kepada Islamisasi atau doktrinisasi, tetapi pendidikan Islam profetik lebih kepada objektifikasinya. Dalam pendidikan Islam profetik misalnya, ajaran tentang menyantuni orang miskin dan anak yatim tidak hanya berlaku bagi orang Islam saja, namun juga orang di luar Islam. Orang Islam dapat mempelajari itu, orang di luar Islam pun sama. Wujud akhir yang nyata dari aktualisasi atau pelaksanaan terhadap nilai-nilai Islam harus bisa dianggap wajar dan diterima oleh umum, demikian halnya dengan pendidikan Islam. Jika pendidikan Islam, dalam bentuk akhir dari aktualisasinya dapat juga diterima oleh masyarakat secara keseluruhan, itulah pendidikan yang dibutuhkan, pendidikan Islam profetik.

ALUR PENDIIDKAN ISLAM PROFETIK

ISLAM

(di dalamnya mengandung nilai-nilai)

 

OBJEKTIFIKASI

(nilai-nilai Islam butuh untuk dibumikan)

 

PENDIDIKAN

(sebagai salah satu media dalam objektifikasi)

 

PENDIDIKAN ISLAM TRADISIONAL (ternyata lebih kepada internalisasi dan doktrinisasi) PENDIIDKAN MODERN

(ternyata lebih sekuler dan liberal)

PENDIDIKAN ISLAM MODERN (mencoba menggabungkan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, namun masih sebatas integralisasi)

 

PENDIDIKAN ISLAM PROFETIK:

HUMANISASI, LIBERASI, TRANSENDENSI

(mengintegrasikan dan mengobjetifikasikan sekaligus)

 

KONSEP SISTEM DAN MEKANISME KURIKULUM DAN PRAKTEK

 

MASYARAKAT SECARA UMUM

(masyarakat Muslim dan non Muslim akan menilai, menerima pendidikan Islam sebagai pendidikan yang wajar, tanpa ada ketakutan akan adanya “islamisasi” atau kristenisasi” atau “sasi-sasi” negatif lainnya)

 

MASYARAKAT ADIL DAN MAKMUR YANG DIRIDHOI OLEH ALLAH SWT. (HUMANIS, LIBERATIF, TRANSENDENTIF)

4.      Menuju Pendidikan Humanis, Liberatif dan Transendentif

Sebagai proses dalam memenuhi kebutuhan manusia,[27] sekaligus ia sebagai kebutuhan itu sendiri, maka pendidikan haruslah memenuhi beberapa syarat. Syarat-syarat tersebut meliputi pendidikan haruslah bersifat memanusiakan manusia (humanisasi), membebaskan manusia (liberasi), dan mengarahkan manusia kepada kebenaran yang hakiki, sumber kebenaran, sesuatu yang spiritualistik dan transendental (transendensi).

Ilmu memang tidak dapat menjelaskan semuanya. Tetapi para ilmuwan sering bermain kata jika mereka merasa kebingungan.[28] Apa saja yang tidak mampu dijelaskan oleh ilmu, dipaksa untuk dijelaskan oleh ilmu. Dalam hal ini, karena keterbatasannya mengapa ilmu membutuhkan wahyu, untuk diintegrasikan dan diobjektifikasikan. Seperti halnya ilmu, pendidikan juga demikian, untuk mampu membantu manusia menjawab berbagai kebutuhan serta persoalan yang dihadapinya, tugas pertama pendidikan adalah harus mampu memanusiakan manusia. Pendidikan harus meletakkan manusia sebagaimana  mestinya, pendidikan tidak boleh menganggap manusia semata-mata bagaikan mesin atau konsumen yang selalu siap untuk “membeli” produk-produk pengetahuan. Meletakkan manusia pada tempat yang berada di atas makhluk ciptaan yang lain, yaitu sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan mulia, tidak ada yang lain selain Tuhan di atas manusia, akan melahirkan pendidikan yang dipandang sebagai kebutuhan bagi kemuliaan. Hal ini berbeda ketika manusia dipandang sebagai makhluk yang rendah. Oleh karena itu, pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang pertama-tama ia harus memanusiakan manusia.

Pendidikan juga harus mampu membebaskan manusia, artinya setelah manusia mengenal dan memperoleh sesuatu dari pendidikan, ia menjadi terbebas, bukan menjadi semakin terbelenggu. Pendidikan Islam profetik membebaskan manusia dari setidak-tidaknya tiga hal; bebas dari ketidaktahuan, bebas dari pengetahuan yang keliru menjadi pengetahuan yang benar,[29] dan bebas dari penindasan. Bebas dari ketidaktahuan berarti manusia dari tidak tahu akan menjadi tahu, bebas dari pengetahuan yang keliru berarti melalui pendidikan manusia mengetahui antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk. Bebas dari ketertindasan lebih memiliki makna yang luas dan radikal. Lahirnya neoliberalisme yang merupakan rekonstruksi terhadap paradigma ekonomi kapitalis telah menjadikan kondisi masyarakat menjadi semakin terpuruk. Kemiskinan, pengangguran, kriminal, penggusuran, biaya pendidikan mahal, adalah dampak terbesar dari neoliberalisme. Secara tidak langsung penindasan telah terjadi di mana-mana, menimpa siapapun dan kapanpun. Manusia menjadi semakin dijauhkan dari esensi kemanusiaannya. Dengan kondisi yang seperti itu maka pendidikan dituntut untuk mampu mengeluarkan manusia dari segala bentuk penindasan. Mengeluarkan manusia dari segala bentuk penindasan juga termasuk objektifikasi dari berjuang di jalan Allah SWT. (jihad fi sabilillah).

Suatu krisis akan melanda jika terjadi peralihan dari keadaan yang lama ke keadaan yang baru namun belum pasti. [30] Hal ini terjadi terutama di era modern seperti sekarang, di mana manusia mulai mengalami krisis spiritualitas.  Krisis spiritualitas ini diakibatkan salah satunya oleh manusia yang berbondong-bondong mulai meninggalkan Tuhan yang sebenarnya beralih menjadi lebih mencintai, takut dan taat kepada “tuhan-tuhan” baru. Tragedi ini biasa terjadi di dalam pendidikan yang mengajarkan kepada siswa tentang ilmu-ilmu modern yang sekuler, memisahkan sejauh-jauhnya antara agama dan dunia. Menjadi tugas pendidikan untuk mengembalikan manusia kepada derajat kemuliaannya, yaitu melalui pendekatan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah SWT., Islam mengajarkan salah satunya melalui pencarian kebenaran. Pendidikan Islam profetik melalui ideologi “Islam”nya, dan berangkat dari pandangan dunia yang benar serta tetap bertitik tolak dari ajaran mengenai Tauhid, kemungkinan besar akan mampu menjawab berbagai persoalan pendidikan kita.

  1. E. Penutup

Pendidikan merupakan salah satu sektor yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan manusia tidak sekedar akan memperoleh pengetahuan, namun dengan pengetahuan itu juga nantinya manusia akan menjadi termanusiakan, merdeka dan kembali menuju jalan yang benar, kembali kepada asal dan tujuanya, Allah SWT. Untuk dapat merealisasikan hal itu maka pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang juga harus sesuai dengan kebutuhan dan fitrah manusia. Berbagai persoalan yang muncul di dunia pendidikan sekarang telah mengakibatkan manusia semakin jauh dari esensi kemanusiannya, dari kebebasannya, serta kedekatannya terhadap Sang Pencipta. Hal ini tentu disebabkan salah satunya oleh arus modernisasi dan disalah artikan di satu sisi dan paradigma yang belum berangkat dari nilai-nilai Islam di sisi lain.

Kehadiran pendidikan Islam profetik sebagai sebuah alternatif diharapkan mampu mengatasi berbagai persoalan tersebut. Berangkat dari nilai-nilai Islam yang dijadikan sebagai sumber ideologi dan paradigma pendidikan, maka lahirlah pendidikan Islam yang membawa misi memanusiakan manusia, membebaskan manusia dan mengembalikan manusia kepada Tuhan-nya. Untuk dapat mewujudkan itu maka dibutuhkan pengintegrasian terhadap beberapa model pendidikan yang sebelumnya ada, tentu saja dengan tetap menggunakan nilai-nilai lama yang masih relevan dan mengambil nilai-nilai baru yang sesuai dengan Islam. Objektifikasi juga merupakan hal penting sebagai pembumian secara nyata nilai-nilai tersebut, namun dengan catatan dapat diterima tidak hanya oleh umat islam, tetapi juga umat lain yang menganggap objektifikasi sebagai hal yang wajar dan rasional.

Komitmen dan konsistensi dalam menerapkan konsep pendidikan Islam profetik tersebut, diharapkan mampu menghasilkan manusia-manusia dengan kualitas-kualitas unggul. Manusia akademis, pencipta, pengabdi, serta bernafaskan Islam. Sehingga kesederhanaan hidup manusia, yaitu beriman, berilmu dan beramal, akan ada di dalam seluruh individu masyarakat Indonesia.Dengan demikian cita-cita masyarakat adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah SWT akan terwujud.

Daftar Pustaka

Ali, A. Mukti. Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia. Bandung: Mizan. 1992.

Arif, Dr. Mahmud. Pendidikan Islam Transformatif . Yogyakarta: LKIS. 2008.

Hardiman, F. Budi. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Yogyakarta: Kanisius. 2003.

Kuntowijoyo. Islam Sebagai Ilmu. Yogyakarta: Tiara Wacana. 2006.

Kartanegara, Mulyadhi Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam. Bandung: Mizan. 2002.

_______ Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam. Bandung: Mizan. 2003.

Madjid, Nurcholis. Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina. 1995.

Mangunwijaya, Y.B. “Cendekiawan dan Pijar-pijar Kebenaran” dalam Aswab Mahasin dan Ismed Natsir (ed.),  Cendekiawan dan Politik. Jakarta: LP3ES. 1984.

Murdan. “Konsep Pendidikan tentang Strategi Baru Pendidikan Islam dalam, Mewujudkan SDM yang Berkualitas” dalam  Khazanah. I. 2002.

PB HMI. Nilai-nilai Dasar Perjuangan. Jakarta: PB HMI. 1972.

_______ Hasil-hasil Kongres ke-XXI PB HMI. Jakartai: PB HMI. 1997.

Rachman,Budhy Munawar. Ensiklopedi Nurcholis Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban. Mizan: Jakarta. 2006.

_______ Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman. Jakarta: Paramadina. 2001.

Rakhmat, Jalaluddin. Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendekiawan Muslim. Bandung: Mizan. 1992.


[1] Dr. Mahmud Arif, Pendidikan Islam Transformatif (Yogyakarta: LKIS, 2008), hlm. 165.

[2] Humanisasi, liberasi dan transendensi adalah kandungan pokok yang menjadi nilai-nilai utama dalam konsep profetik (kenabian). Lihat, Kuntowijiyo, Islam Sebagai Ilmu (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), hlm. 99.

[3] Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 13.

[4] Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 44.

[5] Al-Qur’an Surat Al-Baqarah (2): 29.

[6] Selain para sufi, pandangan mengenai manusia sebagai cerminan Tuhan juga didapati dalam pandangan beberapa filosof Muslim, diantaranya adalah Al-farabi, Ibnu Sima dan Ibnu Rusyd. Pandangan para filosof tersebut berangkat dari daya yang dimiliki oleh manusia yang bersifat transenden.

[7] Mengenai kecenderungan terhadap kebenaran, dan juga keyakinan yang benar sehingga melahirkan tata nilai yang benar juga, banyak dijelaskan oleh Nurcholis Madjid. Lihat salah satu karya monumentalnya yang hingga sekarang menjadi landasan bagi perjuangan salah satu organisasi tertua dan terbesar di Indonesia, HMI. Lihat Nurcholis Madjid dalam Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI (NDP HMI), Nilai-nilai Dasar Perjuangan (Jakarta: PB HMI, 1972).

[8] Budhy Munawar Rachman, Ensiklopedi Nurcholis Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban (Mizan: Jakarta, 2006), hlm. 691-692.

[9] Budhy Munawar Rachman, Ensiklopedi Nurcholis Madjid., hlm. 692.

[10] Pernyataan tersebut terdapat di dalam bab penutup paragraf akhir buku pedoman Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI (NDP HMI), yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) tahun 1972.

[11] Murdan. “Konsep Pendidikan tentang Strategi Baru Pendidikan Islam dalam Mewujudkan SDM yang Berkualitas”, Khazanah, I, Maret-April 2002, hlm. 171.

[12] A. Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 19.

[13] Tentang Struktur Islam, lihat Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), hlm. 29-31.

[14] Budhy Munawar Rachman, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman (Jakarta: Paramadina, 2001), hlm. 296.

[15] Nurcholis Madjid, Islam, Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Paramadina, 1995), hlm. Xlv-xlvi.

[16] Y.B. Mangunwijaya. “Cendekiawan dan Pijar-pijar Kebenaran” dalam Aswab Mahasin dan Ismed Natsir (ed.),  Cendekiawan dan Politik (Jakarta: LP3ES, 1984), hlm. 95.

[17] Dr. Machmud Arif, Pendidikan Islam Transformatif, hlm. V.

[18] Ketakutan tersebut muncul dikarenakan pengaruh pendidikan Barat yang akan mengikis habis nilai-nilai tradisional. Untuk mengantisipasi hal tersebut biasanya pesantren-pesantren tertentu lebih suka bersikap ksklusif. Bahkan tidak segan-segan menerikan doktrin kepada santri-santrinya bahwa pendidikan di luar pesantren hanya akan membawa manusia kepada kesesatan.

[19] Maha karya yang dimaksud adalah Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI (NDP HMI). Beberapa teman Nurcholis Madjid pada waktu itu adalah Endang Saifuddin Anshari dan Sakib Machmud. Sebenarnya NDP merupakan kertas kerja Nurcholis Madjid saat ia masih menjabat sebagai Ketua Umum PB HMI (1966-1969). Dalam acara Kongres PB HMI ke-IX di Malang, untuk menyempurnakan NDP, Nurcholis Madjid dan dua orang yang lain diberi amanah untuk itu.

[20] Lihat, Hasil-hasil Kongres ke-XXI PB HMI di Yogyakarta pada tanggal 26 april 1997.

[21] Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu., hlm. 29-31. Struktur dalam hal ini diartikan sebagai bangunan yang utuh dan sifatnya keseluruhan, yakni suatu keterpaduan yang koheren, bukan struktur yang bagian-bagiannya tercerai berai. Perubahan bentuk diartikan sebagai Islam yang sifatnya dinamis, maksudnya sifat inklusifitas Islam yang tidak kaku dalam menerima gagasan-gagasan, bahasa-bahasa, maupun hal baru lainnya yang memperkaya khasanah Islam. Sedangkan mengatur diri sendiri diartikan bahwa penambahan unsur-unsur baru di dalam Islam tidak pernah berasal dari luar, sehingga itu tidak akan mempengaruhi Islam, karena Islam sudah kaya akan nilai. Jika terdapat persoalan yang menyangkut pembuatan hokum baru, maka tetap akan merujuk kepada sumber yang terdapat di dalam Islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadits, bukan dari luar itu.

[22] Islam sebagai paradigma sering disalahartikan sebagai “Islam”, sehingga menjadikan Islam menjadi sempit. Jika misalnya Muhammadiyah dan NU dianggap representasi terhadap Islam, bukan hanya sebagai organisasi Islam, tidak mustahil akan melahirkan fanatisme golongan. Islam akan semakin sempit maknanya, Islam hanya dipahami “Islam” menurut NU, atau “Islam menurut Muhammadiyah. Banyak kasus yang telah membuktikan saling menyalahkan diantara kedua “Islam” tersebut.

[23] Kuntowijiyo, Islam Sebagai Ilmu., hlm. 61.

[24] Perlu dipahami bahwa sekularisasi di sini berbeda dengan sekularisasi yang dimaksudkan oleh Nurcholis Madjid. Sekularisasi yang dimaksud oleh Nurcholis Madjid adalah proses yang bertitik tolak dari Tauhid, yang dimaksudkan untuk membedakan antara sesuatu yang bersifat sakral dan sesuatu yang bersifat profan, sesuatu yang semestinya statis (nilai) dan sesuatu yang seharusnya dinamis (praktek, furu’iyah). Nurcholis Madjid, dalam sekularisasinya mencoba untuk meletakkan sesuatu sebagaimana mestinya, meskipun satu kesatuan dalam pengertian Tauhid, namun duniawi dan ukhrawi tidak bisa dicampur adukkan, sebab akan mengakibatkan pemahaman yang keliru terhadap nilai-nilai Islam dan berdampak kepada praktek-praktek yang salah. Yang dunia diukhrawikan dan yang ukhrawi diduniakan.

[25] Kuntowijiyo, Islam Sebagai Ilmu., hlm. 63.

[26] Ayat ini memerintahkan tentang ajakan kepada amal yang baik, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah SWT. Maka kurikulum pendidikan yang mengobjektifikasikan nilai-nilai tersebut akan dapat diterima tidak hanya oleh umat Islam, namun juga umat lainnya.

[27] Kebutuhan dapat diartikan sebagai sesuatu yang dengannya manusia akan merasa puas dan tenang jika terpenuhi. Kebutuhan tersebut dapat meliputi kebutuhan akan rasa ingin tahu (pengetahuan), kebutuhan terhadap hidup, makan, pakaian, rumah, dll. Namun tanpa pendidikan, terasa sangat sulit beberapa kebutuhan tersebut akan terpenuhi, maka pendidikan selain menjadi kebutuhan, juga sebagai media atau alat sekaligus proses dalam pemenuhan terhadap kebutuhan tersebut.

[28] Jalaluddin Rakhmat, Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendekiawan Muslim (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 97.

[29] Pengetahuan yang keliru yang dimaksud adalah pengetahuan yang diperoleh melalui cara yang tidak benar sehingga menghasilkan pengetahuan yang tidak benar juga. Dalam praktek transformasi pengetahuan yang telah diperoleh juga untuk tujuan yang tidak benar melalui jalan yang tidak benar. Contohnya, manusia yang ingin menguasai ilmu ekonomi, maka ia merampok untuk dapat membiayai sekolahnya, setelah ia pandai selanjutnya menjadi koruptor dan merugikan negara.

 

About saepudinmas

article, photo, hobby, music, education, experience
This entry was posted in Pendidikan Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s